Percobaan Marsmallow

Percobaan marshmallow (merk permen di Amerika) adalah sebuah percobaan sosial (social experiment) yang dilakukan oleh Walter Mischel dari Universitas Stanford untuk mempelajari mengenai kepuasan tertunda (delayed gratification). Percobaan ini dilakukan Mischel pada tahun 1960-an dan sejak itu percobaan ini pun sering dilakukan uji ulang oleh peneliti lain. Percobaan ini dilakukan terhadap anak usia TK sebanyak 90 anak. Tujuan percobaan sosial ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengendalian diri anak (self-control) terhadap prestasi masa depan nya. Setiap anak diberi permen, lalu diberitahu, barang siapa yg tdk langsung memakannya dan mau menyimpan dulu, nanti akan diberi permen yg kedua. Hasilnya terbagi menjadi 2 kelompok anak. Kelompok pertama yg tdk mengikuti anjuran (langsung memakan permen) dan kelompok kedua anak2 yg mengikuti anjuran (tdk langsung memakan dan menyimpan dulu dg harapan akan dapat permen kedua spt yg dijanjikan). Dua kelompok anak2 ini diamati perjalanan hidup nya dan dicatat prestasi akademiknya selama sekolah dan prestasi finansialnya setelah bekerja. Ternyata, kelompok kedua (yg memiliki kendali atas keinginan nya atau mau menabung permen pertama) memiliki prestasi akademik dan finansial lebih baik daripada kelompok pertama (yg impulsif alias tdk bisa mengontrol keinginan nya). Eksperimen ini menjadi sangat terkenal dan sering diuji ulang dg menambahkan berbagai macam variable yg diamati (misalnya variabel latar belakang pendidikan orang tuanya, latar belakang ekonomi orang tuanya, suku/etnis orang tuanya, dll). Dengan bertambahnya variable yg diteliti, hasil kesimpulan nya adalah membuka perspektif baru, yaitu kemampuan menunda kepuasan bukan satu-satunya faktor kunci keberhasilan anak, namun ada temuan baru yaitu “scarcity mentality” yg menyebabkan seorang anak tdk bisa menunda keinginan nya. Anak-anak yg tumbuh dari keluarga dg ekonomi lemah, memiliki mental kelangkaan (scarcity mentality) yaitu ketakutan tidak kebagian, makanya langsung memakan permen. Dalam benak anak2 dari keluarga miskin ini, tidak yakin akan ada permen berlimpah spt yg dijanjikan, sehingga dia tdk bisa menunda untuk memakan permen yg diberikan (menurut pemahaman anak2 ini, tdk ada jaminan dia akan dapat permen lagi). Scarcity mentality ini juga menjadi penghambat sukses anak2 tsb pada usia dewasanya kelak. Dia tidak yakin bahwa ada kekayaan berlimpah di dunia ini. Pengalaman hidup yg dialami mengajarkan dia bahwa segala sesuatu sulit dia peroleh sehingga kelangkaan (scarcity) menjadi paradigma (pandangan hidup) yg dia tahu. Contoh scarcity mentality adalah orang sulit antri dg tertib (takut tdk kebagian), orang rela menyuap agar urusan nya diperlancar, dll.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.