Winners VS Losers

WINNERS VS LOSERS

Saya ingin menjelaskan kepada para pembaca, ada dua kelompok orang dengan pola pikir berbeda. Kelompok pertama saya sebut sang pemenang (Winners) dan kelompok kedua, saya sebut pecundang (Losers). The Losers selalu mencari-cari kesalahan, membesar-besarkan masalah kecil, memfokuskan energi dan pikirannya untuk mengeluh (complaining). Apapun yang dilihat, dirasakan, dan dialami oleh Losers dilihat dengan kaca pembesar sebagai masalah BESAR. Losers memiliki 3 sifat yang menonjol yang disebut BEJ. B singkatan dari Blame (sikap yang selalu menyalahkan orang lain), E singkatan Excuse (sikap yang selalu mencari dalih atau alasan), J singkatan Justify (sikap yang mencari alasan pembenaran dirinya atau tindakannya. Dirinyalah yang benar, orang lain yang salah).

Orang yang BEJ dengan mudah menyalahkan orang lain. Jika dia tidak berhasil meningkatkan prestasinya, dia selalu punya 1001 alasan pembenaran, mengapa dia tidak sukses (tidak punya modal, tidak punya waktu, orang lain curang, dan lain-lain). Orang yang BEJ sebenarnya ingin mengatakan kepada dunia, bahwa dirinya adalah pribadi yang lemah, korban dari orang lain, korban lingkungan, korban pemerintah, korban sistem, korban PHK, korban krisis ekonomi, korban banjir, dll. Pertanyaan saya, bisakah orang yang mentalnya lemah, yang selalu ingin dikasihani, ingin dilayani atau disuapi, bisa menjadi pemenang dalam persaingan bisnis?

Di dunia ini, anda mudah sekali menemukan orang yang masuk kategori Losers. Ciri-ciri orang tersebut adalah selalu pesimis, tidak antusias, selalu mengeluh seolah-olah mendung akan runtuh. Ada kucing meloncat saja sudah sangat cemas dan berfikir ada maling masuk ke rumahnya. Orang tersebut selalu mencari kambing hitam yakni orang lain yang bisa disalahkan. Di mata dia, dunia penuh dengan masalah dan kecurangan. Kalah dalam Pemilu/Pilpres katanya dicurangi. Orang dengan ciri Losers memfokuskan energi dan pikirannya pada masalah, bukan pada solusi. Tidak heran mereka selalu gagal dalam bisnis apapun karena bisnis tidak pernah bebas dari masalah. Berhati-hatilah jika anda mudah menyalahkan orang lain dan gampang berkeluh kesah. Itu adalah tanda nyata bahwa anda termasuk kategori Losers (orang yang kalah dalam permainan bisnis).

Bisnis tidak bisa dilihat secara hitam dan putih. Bisnis selalu memiliki resiko dan kendala. The art of business is how to deal with risk, minimize it, at the same time, maximizing profit. Orang dengan tipe Losers akan mengatakan kepada dirinya, bisnis itu sulit. Buktinya banyak orang yang gagal daripada yang sukses. Itulah sebabnya mengapa orang miskin dan kelas menengah jumlahnya mayoritas, sedang orang kaya hanya minoritas. Ternyata di dunia ini memang banyak virus mental, yang merusak pikiran kita sehingga tanpa kita sadari, banyak dari kita menjadi pecundang (Losers).

Seorang pemenang (Winners) memfokuskan energi dan pikirannya kepada solusi. Setiap hari, setiap waktu dia menggunakan energi dan pikirannya untuk mencari solusi terbaik. Jika bisnisnya tidak berkembang, maka dia mencari cara pemasaran yang lebih efektif. Jika gagal dengan suatu cara, dia tidak mengeluh, melainkan tetap mencoba cara lain. Jika sudah mencoba berkali-kali masih juga gagal, dia bertanya, apakah masih ada cara lain yang saya belum tahu? Kemana saya harus bertanya? Saya harus belajar dari siapa? Karena dalam setiap bisnis, selalu ada orang yang lebih sukses, berarti ada orang yang mengetahui lebih banyak cara atau strategi. Jika anda punya pola pikir ini, maka akan sangat menghemat banyak waktu, biaya, dan tenaga karena anda tidak harus menjalani ’trial and error’ sendiri. Carilah mentor yaitu orang yang sudah berpengalaman, orang yang sudah melalui liku-liku jalan yang akan anda tempuh. itulah cara menghemat waktu dan biaya untuk meraih sukses dalam bisnis.

Apakah anda masih ingat bahwa, waktu bisa dikompres atau dipendekkan melalui peniruan atas model (contoh sukses). Model adalah orang yang sukses dalam bidang tertentu yang kesuksesannya ingin kita ulangi melalui peniruan, mulai dari emosinya, perasaannya, pikirannya, strateginya, gerakannya, tindakannya, dan lain-lain. Jika anda pandai meniru apa yang dilakukan oleh orang sukses, andapun dengan mudah bisa meraih sukses. Semua bisnis waralaba dasarnya adalah meniru sistem bisnis yang sudah terbukti sukses. Andapun tidak dilarang meniru model yang anda kagumi, yang ingin anda ulangi kesuksesannya. Saya sangat menganjurkan anda untuk meniru cara yang sudah terbukti sukses. Memang akan jauh lebih baik jika anda bisa menemukan cara anda sendiri yang lebih canggih. Tetapi semua itu butuh waktu dan kadang butuh biaya yang mahal untuk riset atau percobaan.

Winners take action. They simply get up and do what has to be done. Winners selalu membuka pikirannya akan kemungkinan solusi alternatif yang belum dia ketahui atau belum terpikirkan. Winners selalu optimis bahwa segala permasalahan selalu ada solusinya. Kisah Thomas Edison yang telah mencoba sebanyak 996 kali namun belum berhasil menemukan cara menjadikan bola lampu bisa berpijar, sangat bagus direnungkan. Seandainya dia berhenti atau putus asa pada percobaan yang ke 996, maka namanya tidak pernah dicatat sejarah sebagai penemu bola lampu pijar. Komentar Thomas Edison sangat sederhana, ”Saya tidak gagal sebanyak 996 kali, tetapi saya telah menemukan 996 cara yang belum menghasilkan bola lampu pijar. Saya akan mencari cara lainnya hingga ketemu”. Sekarang anda tahu mengapa Thomas yang sewaktu kecil dianggap sebagai anak bodoh, ternyata banyak membuat penemuan baru. Yang membedakan adalah mindset (pola pikir). Thomas Edison tidak pernah merasa gagal, dia hanya belum menemukan cara yang efektif dan berhasil, sehingga dia akan terus mencari cara alternatif (mencoba cara lain yang berbeda-beda sampai berhasil).

Dalam bisnispun berlaku hal yang sama. Mungkin anda sudah pernah membuka warung makan dan tidak sukses. Lalu anda mencoba lagi membuka usaha cuci pakaian (laundry), ternyata juga belum sukses. Jika baru mencoba 2 jenis usaha belum sukses, jangan putus asa, karena ada pelaku bisnis sukses mengatakan bahwa anda harus menghabiskan jatah kegagalan minimal 4x, sebelum akhirnya anda bisa meraih sukses. Tanamkan dalam pikiran bahwa anda belum menemukan cara yang efektif dan sukses, bukan gagal berbisnis. Silahkan mencoba cara lain, siapa tahu jodoh atau hoki anda ada di bisnis berikutnya yang belum anda coba.

KESIMPULAN

Apakah anda termasuk kategori Winners or Losers? Hanya anda dan waktu yang bisa menjawabnya. Jika setelah 6 bulan menjalankan suatu bisnis, anda sudah menyerah, maka anda termasuk kategori Losers. Jika anda ingin sukses, fokuskan energi dan pikiran anda untuk mencari solusi yang kreatif. Jika anda ingin gagal, fokuskan energi dan pikiran anda pada masalahnya (kendalanya). Jadilah orang yang selalu mengeluh, menyalahkan orang lain, dan mencari alasan pembenaran, maka anda akan menjadi The Losers (orang yang kalah dalam permainan bisnis).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.